Pasang Iklan Disini !!!

Saturday, February 25, 2017

TEMBIKAR (PERIUK TANAH) "AMPERA" KREATIVITAS YANG TERABAIKAN

MENGUNGKAP KEUNIKAN SEBUAH KERAJINAN TRADISIONAL WARGA DESA AMPERA KABUPATEN ALOR PROVINSI NTT YANG MULAI TERANCAM PUNAH KARNA KURANGNYA KEPEDULIAN DAN PERHATIAN DARI PEMERINTAH DAERAH

Tembikar Desa Lewolang


Gerabah muncul pertama kali pada waktu manusia mengalami masa food gathering (mengumpulkan makanan). Pada masa ini masyarakat hidup secara nomaden atau berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Dalam corak hidup seperti itu wadah Gerabah dapat digunakan secara efektif karena Gerabah merupakan benda yang ringan dan mudah dibawa-bawa. Selain itu Gerabah juga merupakan benda yang kuat, paling tidak lebih kuat daripada yang dibuat dari bahan lain, seperti kayu, bambu atau kulit binatang.
 
Dalam dunia arkeologi istilah Gerabah sudah sangat terkenal, Gerabah sebagai salah satu benda hasil kebudayaan manusia merupakan unsur yang paling penting dalam usaha untuk menggambarkan aspek-aspek kehidupan manusia. Istilah Gerabah ini biasanya untuk menunjukkan barang pecah belah yang terbuat dari tanah liat. Selain dengan sebutan di atas, ada pula sebagian orang menyebutnya dengan tembikar dan sebagian lagi keramik lokal, untuk membedakannya dari istilah keramik asing. Sampai kini Gerabah yang berhasil ditemukan terutama berbentuk wadah, seperti periuk,  pasu, celengan, pot bunga, dan asbak. Bentuk dan kegunaan Gerabah sangat beraneka ragam, mulai sekedar barang peralatan rumah tangga dengan ukuran yang sangat beragam. Menurut bentuk dan kegunaannya, Gerabah dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu fungsi Gerabah fungsional, Gerabah yang dapat memberikan manfaat secara langsung kepada penggunanya. 

Bentuk Gerabah fungsional antara lain : pasu,  periuk, asbak, tempat lilin, dan  Non fungsional : Gerabah dengan golongan ini lebih diutamakan sebagai barang-barang hiasan ruang, seperti pot bunga. Sehinga Gerabah mempunyai keunikan : Mempunyai Nilai Jual Yang Tinggi, dapat berfungsi sebagai hiasan atau pun bisa dipakai dalam kehidupan sehari-hari, sangat mudah untuk pecah, bahan dasarnya dari tanah (tanah liat), menggunakan alat dan teknik pembuatan tradisional, dan proses pembuatannya cukup panjang. cara perawatan : Bersihkan dengan kain basah kurang lebih 1 minggu, dan meletakkannya ditempat yang kering dan terhindar dari sinar matahari.
Berdasarkan ukurannya, Gerabah dapat digolongkan menjadi : Gerabah besar,  Gerabah sedang, dan Gerabah kecil. Gerabah dibuat dari jenis tanah liat yang dicampur.

SEJARAH AWAL MASUKNYA GERABAH

Secara historis, Gerabah masuk di Ampera berawal dari pulau Pantar ( Blagar ) melalui suatu proses 
perkawinan seorang putra yang bernama Kuramo dan seorang wanita yang bernama Buimo. Kuramo merupakan salah satu putera dari tiga bersaudara yang dilihat dari silsilah keturunannya berasal dari binatang ( Babi ), sehingga masyarakat  Ampera pada umumnya tidak menyukai Kuramo. Dengan demikian, orang tua Kuramo mencari jodoh di Pantar ( Blagar ) yang bernama Buimo. Sebagai bekal seorang puteri yang di persuntingkan, kedua orangtuanya memberikan sebuah alat Gerabah yakni Dontor (pemukul) dan Foi’a (anakan batu) dengan harapan bisa membantu kehidupan rumah tangganya. Tiba harinya kuramopun membawa Buimo kedaerah asalnya yakni desa Ampera. Disinalah istri Buimo mulai menerapkan sebuah karya lokal dari tanah liat yang disebut yakni Gerabah, warisan dari kedua orangtunya sangatlah membantu dan itu pada akhirnya menjadi budaya desa Ampera hingga dewasa ini.
Latar dari Gerabah ini disatu sisi merupakan suatu tradisi budaya sementara disisi lain sangat membantu perekonomian rumah tangga pada khusunya dan daerah terkait pada umumnya.

PROSES PEMBUATAN GERABAH

ALAT DAN BAHAN

Alat:
Linggis ( Hanor ) untuk menggali tanah
Tempurung ( Tu, a ) untuk mengambil tanah
Bakul ( Botang ) tempat mengisi tanah
Alu ( Alu ) untuk menumbuk tanah
Pengaya ( Keka ) menyaring tanah
Kayu Pemukul ( Dontor ) ada tiga macam yakni besar, sedang dan kecil membentuk Gerabah pada tahap pertama,kedua dan ketiga
Anakan Batu ( Foi, a ) menahan bagian dalam Gerabah dalam proses pembuatan
Sepotong sendok ( Huru ) menipiskan priuk tanah
Pisau ( Duri ) membentuk motif di luar periuk tanah Sepotong kain khas, pelicin periuk tanah
Karung ( Karong ) alas paha
Nyiru  ( Ba’i ) pembentukan awal dari pembuatan Gerabah
Bahan :
Bahan-bahan yang diperlukan dalam pembuatan Gerabah adalah sebagai berikut :
 tanah liat, pasir, air, daun pisang, kayu api, alang-alang.

Teknik Pembuatan 

Proses Pembuatan   

1.  Penjemuran Bongkahan tanah dipecah hingga menjadi butir-butir yang lebih kecil dan halus, dijemur hingga kering secara merata.  

2.  Penumbukan Bahan tanah liat yang sudah kering ditumbuk sampai halus dengan alat penumbuk (aluh dan lesung). Setelah ditumbuk tanah liat akan menjadi halus seperti tepung.  

3.  Penyaringan Hasil penumbukan tanah liat yang sudah halus disaring dengan menggunakan saringan. Jika menghendaki yang lebih halus lagi dapat menggunakan saringan dengan ukuran kecil. Butiran kasar yang tidak tersaring dapat ditumbuk dan disaring kembali.    

5. Pencampuran Tanah liat yang sudah disaring dicampur dalam suatu wadah dengan cara diaduk. Tambahkan air secukupnya dari jumlah tanah liat kering. Penambahan air dilakukan sedikit demi sedikit dan merata sambil diaduk dan diremas-remas, sehingga kandungan air dalam tanah liat cukup dan siap untuk diuli.  

6. Pengulian Pengulian tanah liat dilakukan agar tanah liat menjadi plastis dan homogen, kemudian dibentuk menjadi bulatan-bulatan bola tanah liat.   

7. Penyimpanan Bulatan-bulatan bola tanah liat disimpan dalam kantong plastik dan ditutup rapat selama kurang lebih 7 hari. Dalam proses ini terjadi proses fermentasi dari unsur-unsur organik yang dikandungnya, sehingga tanah liat menjadi lebih plastis. 

Dari hasil tersebut di bentuk menjadi periuk tanah dengan menggunakan alat seperti : pemukul, nyiru, anakan batu, dan kain. Untuk mendapatkan hasil periuk tanah yang bagus, periuk tanah di simpan di tempat yang sejuk selama 30 menit. Setelah itu di berikan motif periuk sesuai dengan keinginan pekerja dan hasilnya di jemur selama 7 hari. Dari periuk yang sudah di jemur ini di susun dan di bakar dengan mengunakan bahan-bahan yang sudah di sediakan seperti : kayu bakar, alang-alang dan daun pisang selama 3-4 jam sehingga periuk tersebut kelihatan berwarna merah.

Sungguh sebuah kerajinan yang memiliki nilai jual yang tinggi dan bisa menjadi salahsatu situs wisata tradisional yang mampu mendongkrak perekonomian masyarakat tempat ini. Tapi kerajinan ini semakin lama semakin terkubur oleh perputaran waktu dan juga disebapkan oleh kurangnya perhatian pemerintah dalam memberdayakan kerajinan-kerajinan yang masih bersifat tradisional di tempat ini.


2 comments: