Pasang Iklan Disini !!!

Monday, February 27, 2017

DIBALIK SKENARIO GENERASI PENGEKOR



DIBALIK SKENARIO GENERASI PENGEKOR

OPINI

Oleh :Damanhury Jab
Damanhury Jab
Mahasiswa UMM Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris
Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
 
Judul yang kontradiktif dan menyinggung. Tapi ini adalah awal mula dan akar permasalahan dari penyebab kehancuran dan kebobrokan Negeri ini.

Indonesia merupakan Negara kepulauan yang memiliki bermacam ragama kekayaan sumber daya alam yang sangatlah melimpah. Mulai dari pasir hingga emas, atau dari air hingga minyak bumi bahkan dengan kayaan ini ada lagu  yang mengatakan ”Indonesia adalah tanah syurga”. Memang pantas istilah ini disandang oleh Negeri kita yang kaya nan menawan ini.

Namun siapa sangka, berawal dari kekayaan inilah ancaman demi ancaman berdatangan dan menggempur. Negara – negara asing banyak yang merasa begitu tergiur untuk masuk dan turut serta menikmati kekayan “tanah syurga” ini. Dulu, mereka masuk dan dengan keserakahannya ingin menghegemoni kekayaan alam Negeri ini dengan paksa. Kini, mereka masuk dengan bentuk jelmaan laksana malaikat tapi berhati iblis dengan tujuan yang sama pula. Ingin merebut serta menguras habis – habisan kekayaan Negeri ini secara perlahan – lahan.

Dijalan – jalan kita lihat, tuntutan demi tuntutan terus dilancarkan oleh mahasiswa dan masyarakat yang bersatu dalam Aliansi yang sering berganti nama. Namun, suara – suara ini secara perlahan lahan mulai coba dibungkam dengan berbagai macam siasat bejat. Masyarakat coba disibukkan untuk memikirkan perutnya dengan dinaikkannya harga kebutuha pokok setinggi mungkin. Sementara itu, Mahasiswa-pun disibukkan dengan perkembangan teknologi terbaru yang serba memanjakan dan asik berbicara tentang dunia sosialita. Maka, semakin menggila pulalah praktik – praktik eksploitasi ini hingga menjalar dan menggerogoti tanah syurga yang perawan ini.

Siapa dalang dari ini….???

Pemangku kebijakan adalah salahsatu pemain utama dan yang patut bertanggung jawab dalam kemorat - maritan ini. Dengan alasan Ekonomi Global pada Rezim Orde Baru mengawali praktek eksploitasinya hingga menyerahkan salahsatu kekayaan Negeri yang hari ini masih menjadi pembahasan terseksi yaitu Freeport di Papua. Kemudian hari ini, di era reformasi edan  yang serba alay ini, Pemangku kebijakan dengan serakahnya Membawa Negeri kita kedalam sebuah lembaran hitam yang menakutkan. MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) lembaran hitam yang dibuka dengan penuh kepura – puraan ditulis dengan tinta emas tapi berbau amis. “Jika negara kita melibatkan diri dengan Ekonomi Global dan MEA, Maka kemiskinan dan kemelaratan yang menjadi permasalahan terbesar di negara kita akan segera teratasi”. Dengan embel – embel ini pula mereka menjelma. Buktinya, Penggusuran rumah warga dan pengangguran karna minimnya ketersediaan lapangan kerja masih merajalela. Bahkan telah muncul pengangguran kelas baru yakni “Pengangguran Intelektual”.

Siapa sebenarnya pemangku kebijakan diatas sana???

Mereka dulunya adalah mantan – mantan Aktivist yang selalu berdiri di garda depan sebagai pahlawan bagi kaum tertindas. Mereka adalah orang – orang yang dulunya selalu mengumandangkan suara – suara minor dengan idealismenya yang terlihat seakan – akan kokoh laksana tembok Cina. Membangun kesan kepada yang melihatnya bahwa meski diterjang oleh Ombak dari Tujuh syamudrapun tidak akan pernah goyah Idealismenya.

Namun apa yang terjadi hari ini…???

Idealisme – idealisme itu laksana kertas lusuh yang diremas-remas kemudian dibuang kedalam keranjang sampah yang berisikan kotoran – kotoran yang berbau busuk. “Jika kau mau Uang, mari perlancar tujuan dan kepentingan kami”. Begitualah para pemilik modal merayu, laksana Iblis yang selalu berusaha memenjarakan manusia dalam kegelimangan dosa . Mereka menjadi pengekor, menjadi babu pemilik modal yang selalu bersedia serta manut sekalipun disuruh membunuh kaum mereka sendir. Disana, mereka berkonspirasi dengan kaum Imperialis agar bisa punya mobil mewah, Rumah Megah, dan Istri Cantik. Kemudian berdiri dengan tegak di depan publik, di depan adik – adik aktivist mahasiswanya yang sedang mendemo sembari berkata “Saya adalah orang sukses dan saya pernah menjadi seperti kalian” kata yang terucap tanpa beban dan dosa. Jika kau ingin sukses sepertiku, maka mari ikuti jalanku. Maka tidaklah sedikit dari para aktor mimbar bebas dan aktivist – aktivist-pun turut bergabung dalam lingkaran iblis yang menuhankan uang ini selepas mengenakan Toga. 

Lalu apa yang perlu kita perbuat…???

Jika hal ini dibiarkan berekalanjutan, maka mari menunggu kehancuran dan kebobrokan “Tanah Syurga” kita. Sudah saatnya kita membuka mata dan hati yang hingga saat ini semakin masif digerogoti oleh virus moderenisme. Dengan melihat realitas yang terjadi di tengah – tengah himpitan kehidupan masyarakat yang serba terpuruk ini, Mahasiswa sebagai generasi yang memiliki tanggung jawab sebagai Agen of Social controller harus kembali bangkit dengan segala kekuatan dan kemampuan intelektualnya. Jadikan fenomena yang memalukan ini sebagai bahan evaluasi kita terutama dalam kalangan mahasiswa dan terkhususnya pada kalangan aktivis mahasiswa. Semoga dengan tulisan ini bisa membantu mengurangi presentase praktik – praktik pendholiman terhadap Masyarakat dengan kepintaran dan kemampuan intelektual yang sudah diberikan tuhan kepada mereka.

Salamku Untukmu yang dulunya Idealis,
Salamku Untukmu yang hari ini Idealis,
Serta salamku untukmu yang akan menjadi kaum Idealis.

No comments:

Post a Comment