DIBALIK SKENARIO GENERASI PENGEKOR
OPINI
Oleh :Damanhury Jab
![]() |
Damanhury Jab
Mahasiswa UMM Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris
Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
|
Judul yang kontradiktif
dan menyinggung. Tapi ini adalah awal mula dan akar permasalahan dari penyebab
kehancuran dan kebobrokan Negeri ini.
Indonesia merupakan
Negara kepulauan yang memiliki bermacam ragama kekayaan sumber daya alam yang
sangatlah melimpah. Mulai dari pasir hingga emas, atau dari air hingga minyak
bumi bahkan dengan kayaan ini ada lagu
yang mengatakan ”Indonesia adalah tanah syurga”. Memang pantas istilah
ini disandang oleh Negeri kita yang kaya nan menawan ini.
Namun siapa sangka,
berawal dari kekayaan inilah ancaman demi ancaman berdatangan dan menggempur.
Negara – negara asing banyak yang merasa begitu tergiur untuk masuk dan turut
serta menikmati kekayan “tanah syurga” ini. Dulu, mereka masuk dan dengan
keserakahannya ingin menghegemoni kekayaan alam Negeri ini dengan paksa. Kini,
mereka masuk dengan bentuk jelmaan laksana malaikat tapi berhati iblis dengan
tujuan yang sama pula. Ingin merebut serta menguras habis – habisan kekayaan Negeri
ini secara perlahan – lahan.
Dijalan – jalan kita
lihat, tuntutan demi tuntutan terus dilancarkan oleh mahasiswa dan masyarakat yang
bersatu dalam Aliansi yang sering berganti nama. Namun, suara – suara ini
secara perlahan lahan mulai coba dibungkam dengan berbagai macam siasat bejat.
Masyarakat coba disibukkan untuk memikirkan perutnya dengan dinaikkannya harga
kebutuha pokok setinggi mungkin. Sementara itu, Mahasiswa-pun disibukkan dengan
perkembangan teknologi terbaru yang serba memanjakan dan asik berbicara tentang
dunia sosialita. Maka, semakin menggila pulalah praktik – praktik eksploitasi ini
hingga menjalar dan menggerogoti tanah syurga yang perawan ini.
Siapa dalang dari
ini….???
Pemangku kebijakan
adalah salahsatu pemain utama dan yang patut bertanggung jawab dalam kemorat -
maritan ini. Dengan alasan Ekonomi Global pada Rezim Orde Baru mengawali
praktek eksploitasinya hingga menyerahkan salahsatu kekayaan Negeri yang hari
ini masih menjadi pembahasan terseksi yaitu Freeport di Papua. Kemudian hari
ini, di era reformasi edan yang serba alay
ini, Pemangku kebijakan dengan serakahnya Membawa Negeri kita kedalam sebuah
lembaran hitam yang menakutkan. MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) lembaran hitam
yang dibuka dengan penuh kepura – puraan ditulis dengan tinta emas tapi berbau
amis. “Jika negara kita melibatkan diri dengan Ekonomi Global dan MEA, Maka
kemiskinan dan kemelaratan yang menjadi permasalahan terbesar di negara kita
akan segera teratasi”. Dengan embel – embel ini pula mereka menjelma. Buktinya,
Penggusuran rumah warga dan pengangguran karna minimnya ketersediaan lapangan
kerja masih merajalela. Bahkan telah muncul pengangguran kelas baru yakni “Pengangguran Intelektual”.
Siapa sebenarnya
pemangku kebijakan diatas sana???
Mereka dulunya adalah
mantan – mantan Aktivist yang selalu berdiri di garda depan sebagai pahlawan
bagi kaum tertindas. Mereka adalah orang – orang yang dulunya selalu
mengumandangkan suara – suara minor dengan idealismenya yang terlihat seakan – akan
kokoh laksana tembok Cina. Membangun kesan kepada yang melihatnya bahwa meski
diterjang oleh Ombak dari Tujuh syamudrapun tidak akan pernah goyah
Idealismenya.
Namun apa yang terjadi
hari ini…???
Idealisme – idealisme
itu laksana kertas lusuh yang diremas-remas kemudian dibuang kedalam keranjang
sampah yang berisikan kotoran – kotoran yang berbau busuk. “Jika kau mau Uang,
mari perlancar tujuan dan kepentingan kami”. Begitualah para pemilik modal
merayu, laksana Iblis yang selalu berusaha memenjarakan manusia dalam
kegelimangan dosa . Mereka menjadi pengekor, menjadi babu pemilik modal yang
selalu bersedia serta manut sekalipun disuruh membunuh kaum mereka sendir. Disana,
mereka berkonspirasi dengan kaum Imperialis agar bisa punya mobil mewah, Rumah
Megah, dan Istri Cantik. Kemudian berdiri dengan tegak di depan publik, di
depan adik – adik aktivist mahasiswanya yang sedang mendemo sembari berkata
“Saya adalah orang sukses dan saya pernah menjadi seperti kalian” kata yang
terucap tanpa beban dan dosa. Jika kau ingin sukses sepertiku, maka mari ikuti
jalanku. Maka tidaklah sedikit dari para aktor mimbar bebas dan aktivist –
aktivist-pun turut bergabung dalam lingkaran iblis yang menuhankan uang ini selepas
mengenakan Toga.
Lalu apa yang perlu
kita perbuat…???
Jika hal ini dibiarkan
berekalanjutan, maka mari menunggu kehancuran dan kebobrokan “Tanah Syurga”
kita. Sudah saatnya kita membuka mata dan hati yang hingga saat ini semakin masif
digerogoti oleh virus moderenisme. Dengan melihat realitas yang terjadi di
tengah – tengah himpitan kehidupan masyarakat yang serba terpuruk ini,
Mahasiswa sebagai generasi yang memiliki tanggung jawab sebagai Agen of Social
controller harus kembali bangkit dengan segala kekuatan dan kemampuan
intelektualnya. Jadikan fenomena yang memalukan ini sebagai bahan evaluasi kita
terutama dalam kalangan mahasiswa dan terkhususnya pada kalangan aktivis
mahasiswa. Semoga dengan tulisan ini bisa membantu mengurangi presentase
praktik – praktik pendholiman terhadap Masyarakat dengan kepintaran dan
kemampuan intelektual yang sudah diberikan tuhan kepada mereka.
Salamku Untukmu yang dulunya Idealis,
Salamku Untukmu yang hari ini Idealis,
Serta salamku untukmu yang akan menjadi kaum
Idealis.

No comments:
Post a Comment