- Dhung Thung Hong
Pernyataan para mahasiswa itu
bukanlah suatu pernyataan Politik melainkan pernyataan etik
-
Jap Ki Hien
Jujur saya termenung melihat itu. Deretan mahasiswa duduk
berjejer rapi tanpa bantahan.potongan mereka hampir mirip – mirip. Tertempel
difoto diatas foto guru besar: padat gelar dengan muka lukisan yang dibuat
bewibawa. Menjatuhkan pandangan pada kelas seperti sebuah titah: diamlah maka
kamu akan mendapat pengetahuan. Seakan pengetahuan itu bisa menjelma dalam
ruangan yang sunyi. Tak berisik dan tak bergerak. Lalu mahasiswa diperkenalkan
dengan disiplin, sebuah aturan ditegaskan: masuklah dengan tertib, capailah
nilai setinggi mungkin dan bersikaplah yang sopan. Maka, kuliah seperti
pekerjaan pegawai dengan jam rutin dan hasil yang bisa di prediksi. Lazim
situasi ini dengan sebutan: Latihan menjadi kaum professional.
Tapi, apakah memang begitu suasana kuliah?
Kuingin ajak pembaca kembali ke dasawarsa 1940. Masa dimana
sebuah bangsa menjemput mimpinya. Masa dimana golongan mahasiswa mempunyai
status Istimewa. Elit baru yang tampil dengan cita – cita kemanusiaan mereka. Biarlah ben Anderson yang menceritakan
tentang Usaha Asrama Kala itu.
Asrama
itu merupakan tempat pelarian dari keluarga, menydiakan tempat tidur bagi
mahasiswa yang terdampat di Ibu kota
atau sedang berkunjung kesana dari daerah, merupakan forum diskusi – diskusi
intens yang agak tertutup dan menjadi pusat solidaritas ….. macam opini dari
kalangan pelajar atau mahasiswa berkisar dari marxisme yang lebih dogmatis,
yang dianut oleh orang – orang yang dikemudian hari menjadi anggota partai
komunis Indonesia yang dibentuk kembali, sosialisme demokratis, dan aliran
sosialisme yang kadang – kadan berwarna otoriter.
Suasna
pastilah gaduh dan penuh kejutan. Debat dan olah gagasan setiap orang
menggairahkan. Maklum, mungkin itu karena keadaan yang butuh gagasan dan sedang
menghadapi berbagai macam ancaman. Jepang berdiri dengan imperium fasis yang
siap menangkap siapapun yang dicurigai.
Beberapa aktivis mahasisiwa ditangkap
dan beberapa dijatuhi hukuman mati. Lalu, Belanda dengan gemas ingin mencaplok.
Pada situasi suram itu, mahasiswa berdiri tidak dengan status fakultasnya
ataupun sikap primordialnya.tetapi kesadaran umum sebagi golongan terdidik. Apa
sesungguhnya komitmen mereka? Aforisme yang selalu digunakan Sjahrir bisa
menjadi untuk melihat keresahan umum mereka:’satu – satunya shabat revolusi
adalah waktu’; ‘revolusi juga berarti kesabran’; ‘revolusi adalah persipan’.
Sejarah itu bisa menjadi sebuah
kerangka moral dan imaginatif. Bahawa seorang anak muda tumbuh dengan cita –
cita besarnya: memepertahankan republik dengn kesadaran sebagai seorang
terpelajar.
Kebangkitan Pemuda adalah awal
dari kemajuan suatu Kaum.
Salam Perjuangan !!!!
Alor Negeriku....Hika Jati diriku...

No comments:
Post a Comment