Pasang Iklan Disini !!!

Monday, January 30, 2017

PENDIDIKAN YANG MEMBEBASKAN



Kultur pendidikan dengan metode intimidatif, militeristik, dan tidak dialogis pada dasarnya memiliki filosofi bahwa manusia hanya bisa berkembang melalui pemaksaan dan tekanan.
Pedagogi ini tidak berangkat dari keyakinan bahwa setiap pribadi adalah pembelajar yang positif dan unik. Baginya, keterampilan berdialog, menerima perbedaan dan keunikan bukanlah keutamaan fundamental.

Peserta didik tidak dilatih untuk bisa mandiri berpendapat, memiliki integritas, dan bersikap otentik, namun lebih condong pada kepatuhan dan konformitas atas nama semangat korsa.

Individu kemudian terbiasa mencari aman dan konformis dalam kelompoknya. Celakanya, pola-pola konformitas, cari aman dan ikut arus bisa menjadi iklim tumbuh dan terpeliharanya budaya koruptif yang sistemik.

Sangat logis pula bila dewasa ini ada kesulitan dalam masyarakat untuk berdialog dan menerima perbedaan.


Paradigma Pedagogi Reflektif

Secara pedagogis, proses pembelajaran pada esensinya adalah kegiatan yang cerdas dan partisipatif yang mengembangkan otonomi berpikir, kreativitas, serta membentuk kompetensi dan sikap bertanggung jawab.

Kegiatan ini harus merangsang peserta didik agar secara reflektif dapat menemukan dan membangun dirinya yang otentik, dalam proses belajar di masing-masing jenjang melalui dinamika interaksi yang sehat dengan para pendidik, peserta didik lainnya, tenaga kependidikan, keluarga, serta masyarakat sekitarnya.

Peserta didik harus dilatih untuk berpikir, menganalisa, berdiskresi menimbang-nimbang pilihan, berani berdialog dan berargumentasi secara dewasa dan ilmiah serta lalu mengambil keputusan, bukan sekadar untuk patuh atau konformis.

Dalam konteks Paradigma Pedagogi Reflektif, semua proses ini diolah agar peserta didik dapat menemukan lesson-learned yang menggerakan tiga daya jiwa: ingatan, kesadaran, dan kehendak.

Model pendidikan ini hanya bisa dibangun bila bangsa ini bisa melepaskan diri dari habitus kekerasan, dan memulai habitus dialog yang menghargai perbedaan, agar kita semua menyadari bahwa kekuatan bangsa ini adalah di dalam kemajemukannya, bukan di dalam uniformitas yang dibangun dari paksaan dan tekanan, sebagaimana akhir-akhir ini kita rasakan di dalam kehidupan sosial politik.

Tuesday, January 24, 2017

DARI “YABES” HINGGA “ANDMESH”


HIKA 24/1/2017- Disela – sela perkembangan teknologi yang semakin maju, membuat pemuda pemudi Indonesia dalam skala besar berubah seketika menjadi robot – robot hidup yang diperbudak oleh teknologi hingga mulai tersurut semangat persaingannya dalam mengukir prestasi. Akhirnya terlihatlah sudah sebuah upaya bangkit dari ketertinggalan oleh beberapa pemuda Pinggiran negeri ini untuk bersaing di kanca Nasional bahkan hingga Internasional. Diantaranya adalah generasi – generasi berbakat asal Nusa Tenggara Timur.

Beberapa waktu terakhir ini nama Nusa Tenggara Timur cendrung menjadi sorotan utama di kanca Nasional dari kanca Sepak Bola hingga Seni Tarik Suara. Terkhususnya Kabupaten Alor, Kabupaten kecil yang terletak di wilayah pinggiran Negara tercinta ini. Kabupaten Alor cendrung dikenal sebagai tempat yang memanjakan mata para pengunjungnya atau para Wisatawan, namun siapa sangka akhir – akhir ini kabupaten Alor telah memunculkan dua pemuda berbakat yang mengukir prestasi hingga ke kanca Nasional yakni Yabes Roni dan Andmesh Kamaleng. 

Dua pemuda yang membuktikan diri kepada publik bahwa Ras timur bukanlah Ras tertinggal dan terbelakang melainkan Ras timur adalah Ras yang dibentuk dengan dinamikan hidup yang serba kekurangan dan dengan penuh keterbatasan untuk bersaing dalam mengukir prestasi.

Seperti Yabes Roni, Salahsatu Bintang sepak Bola Timnas Indonesia U-19 yang maju sebagai salahsatu pejuang Nasional di Cabang Olahraga Sepakbola dimana berhasil menjebol gawang musuh sebagai penentu dalam pertandingan melawan Filipina beberapa waktu lalu. Tentunya sebuah pencapaian yang perlu kita beri Jempol.

Demikian juga dengan salah satu seniman di dunia tarik suara yakni Andmesh Kamaleng salahsatu Kontestan dalam ajang pencarian bakat Rising Star di RCTI yang membuai masyarakat Indonesia dengan suaranya yang merdu dan khas serta menjadi salah satu Kandidat terkuat untuk menduduki Posisi wahid (satu) di ajang ini mari kita terus berikan dukungan karna dia memang pantas mendapatkan itu.

Inilah sebuah gerakan kebangkitan yang real. Pertarungan melawan ketertinggalan, memilih untuk bangkit hingga ke kanca tertinggi dari persaingan yang semakin semakin ketat ini.

Sebuah apresiasi tentunya patut diberikan kepada Pemerintah Kabupaten Alor wabil khusus kepada komisi yang bertugas untuk membina dan memperhatikan bakat serta kemampuan pemuda pemudi kabupaten Alor agar siap bertarung hingga ke Kanca tertinggi. Pemuda adalah mereka yang akan melanjutkan segala perjuangan yang berkaitan dengan Eksistensi dan Kemajuan sebuah daerah maka Perhatian khusus patut diberkan kepada mereka. (jab)   

Tuesday, January 10, 2017

FOTO AGENDA HIKA MALANG


 HIKA (Himpunan Kekeluargaan Alor) MALANG adalah perkumpulan Mahasiswa/Mahasiswi Malang yang berdasarkan AD/ART.



  HIKA adalah Organisasi Kekeluargaan Daerah Kabupaten Alor yang berorientasi pada persamaan Hak. dalam artian;

a. Sebagai wadah penghimpunan warga Alor yang berada di Malang dengan memiliki persamaan  kehendak.
b.Menampung, memadukan, menyalurkan aspirasi anggota serta meningkatkan kesatuan berorganisasi. 
Sebagai Organisasi Daerah tentunya merupakan sebuah tanggung jawab dalam keberlangsungan kaderisasi Anggotanya, Demi Mencetak calon - Calon Intelektual Muda Kabupaten Alor. HIKA adalah tempat belajar dan tempat berkumpulnya Para Putra Daerah Kabupaten Alor yang hari ini sedang Belajar di Kota Malang.

Bagi Calon Mahasiswa Baru, Jangan Kahawatir, Jika Kalian di Malang. karna ada Senior - senior yang selalu setia Mendampingi kalian dan Jangan Merasa Takut karna Kita Punya Wadah.

Mari Belajar. Mari Berproses...

Berikut Dokumentasi Kegiatan Dies Natalis, Mubes dan Makrab HIKA Malang
 



(Bang Ruslan Kasong Selaku Senior HIKA sedang Menyampaikan Sambutan ketika Acara Dies Natalis, Mubes dan Makrab HIKA MALANG yang ke 28)

Pembacaan Do'a Psca Pelaksanaan kegiatan

Mahasiswi Alor yang sedang Berpose "Tampak Keakraban dan Keharmonisan antar sesama Warga Alor Malang sangat terlihat dengan Jelas

Mahasiswa Alor Malang

Ketupel Kegiatan  dan Soundman

Lingkaran Tarian Lego - Lego Anggota Hika Malang

Makan Besar dalam Hajatan Akbar (Dies Natalis, Mubes dan Makrab)

Makan Besar

Lagi Makan Tapi Sempat Senyum

Demisioner Ketua HIKA bersama Pasukan Korwil 2

Silaturrahmi Antar Anggota Hika  Malang di Kontrakan Demisioner ketua Hika 2015/2016

Silaturrahmi Antar Anggota Hika  Malang di Kontrakan Demisioner ketua Hika 2015/2016

Silaturrahmi Antar Anggota Hika  Malang di Kontrakan Demisioner ketua Hika 2015/2016
              
Pasukan Dapur

Lantunan Sya'ir Lego - lego Bergema Di Bumi Arema

Lego - lego (BEKU) Pada Acara Penutupan 
Mubes dan Dies Natalis HIKA
TAHUN KEPENGURUSAN 2015/2016
Budaya adalah Identitas diri dari seseorang tanpa memandang batas Usia, Mulai kanak - kanak hingga dewasa, semua akan terbentur dengan yang namanya Budaya. Berbicara tentang budaya maka saya Ingin mengajak pembaca yang budiman untuk sedikit merenung dan berpikir tentang sebuah pepatah yang kerap kali kita dengar "Bahasa Menentukan Bangsa", Jika saya Coba mengurai kata ini dan membenturkannya dengan Budaya dengan kata "Budaya Menentukan Bangsa" Maka ini merupakan sebuah Identitas diri dari sesorang "Siapapun Dia dan dimanapun dia berada". 

Secara garis besar, Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.

Jika budaya diwariskan dari generasi ke generasi, maka sudah tentu perlu adanya regenarasi yang dilakukan demi menjaga kelestarian budaya suatu daerah atau dalam bahasanya Intelek adalah gerakan “Manifestasi”. Dalam pelestarian Budaya, Pemuda – pemudi adalah fokus utama dalam pelaksanaan dan pelestariannya.

HIKA Malang adalah salahsatu Perkumpulan Mahasiswa Alor di Malang yang hingga Hari ini masih menjunjung tinggi kelestarian dari Sekian Banyak tradisi kekayaan daerahnya yaitu seni tari Tradisional lego – lego.

Tarian lego – lego yang hari ini semakin surut Eksistensinya ditengah masyarakat dan muda mudi Alor dikarenakan tergilas oleh Virus Moderenisasi tanpa Filter inipun sempat mengguncangkan Bumi Arema dalam beberapa waktu terakhir ini. Salah satunya adalah pada momenum Penutupan pelaksanaan Musyawarah Besar Organisasi Daerah Alor dan Dies Natalis HIKA yang ke-28 Di Songgokerto Malang.

Pada momen ini terlihat seluruh putra - putri Alor ini berdiri bergandengan tangan dan sama – sama melantunkan Pantun yang biasanya dinyanyikan dalam tarian lego – lego yang sering kita Jumpai hampir disetiap acara – acara adat di Alor.

Dalam kegiatan ini, ada beberapa tamu undangan yang secara latar belakangnya bukan berasal dari Alorpun ikut bergabung dalam lingkaran lego – lego ini.

“Ini adalah tarian yang sangat unik, dan tidak membosankan untuk dimainkan, keindahan dan kepuasan saya jumpai dalam lingkaran ini, penarinya selalu se-iya dan se-kata dalam melepas langkah dan saling bergenggaman tangan selama menari. Ini tarian yang indah,unik dan memuaskan. Apalagi ketika lagu Hanja tadi, saya seperti terhipnotis dengan kenikmatan dan kekompakan tariannya”. Ujar NG salah satu Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang yang kebetulan hadir dalam acara ini.

Sengguh sebuah apresiasi besar dan rasa bangga tersendiri untuk kita, karena memiliki budaya yang begitu unik serta memiliki pemuda pemudi yang hingga hari ini masih Istiqomah dalam menjaga kelestarian budaya kita. Semoga ini bisa mejadi sebuah langkah Awal dalam mengeksplore budaya Alor yang Menawan ini.(Jab)

 (Siapapun Kamu, Dimanapun Kamu, Ingat Kewajibanmu Adalah Masa Depan Negerimu) 
Malang 25 September 2016 - Damanhury Jab

Suasana Natal Bersama Keluarga Besar Himpunan Kekeluargaan Alor Malang (HIKA Malang)


Kegiatan Natal Bersama
Hari Natal- yang bertepatan pada tnggal 25 Desember 2016 kini telah tiba, Seluruh Ummat Kristiani menyambutnya dengan penuh kebahagiaan serta keharuan. Demikian pula yang dirasakan oleh Para Mahasiswa Krisiani Asala kabupaten Alor Propinsi Nusa Tenggara Timur ini.

Pada Malam Natal kali ini bertepatan dengan tanggal 24 Desember 2016, diadakan diskusi Interaktif yang bertemakan  Harmonisasi antar ummat beragama yang diadakan Oleh pengurus HIKA bidang Keagamaan bekerjasama dengan bidang Keanggotaan. Dengan fasilitas yang seadanya, Kegiatan ini dapat dilaksanakan dengan lancar dan memberikan kesan kebahagiaan dan persaudaraan yang mendalam dihati para pemuda pemudi asal Kabupaten yang berbatasan laut dengan negara Timor Leste ini.


'Kita adalah anak muda- anak muda Alor yang hari ini diberikan amanah oleh orangtua kita, keluarga kita, serta negeri kita yang tercinta untuk merantau ke tanah jawa dengan tujuan untuk belajar. puncak tertinggi dari belajar adalah berilmu, dan puncak tertinggi jadi orang yang berilmu adalah menjadi bijak'. Polemik politik yang kemarin sempat terjadi di Ibu Kota Negara kita hingga nyaris meretakkan tali Kebhinekaan, jangan sampai meretakkan juga Ikatan persaudaraan antar kita ummat beragama. Khususnya kita Masyarakat kabupaten Alor. Khususnya kalian, Benih-benih kabupaten Alor yang hari ini sedang berproses dalam rahim ORDA HIKA Malang. ingat, Kita dilahirkan dengan Kasih sayang tanpa terkotak-kotakkan kita adalah Alor, dan Alor adalah Tara miti Tomi Nuku, Tenang Eli Mule Noa.  Ujar Ruslan Kasong selaku senior ORDA HIKA Malang dalam sambutannya.

Terlihat antusias yang cukup besar dalam menyambut Hari Natal tahun ini, dalam sambutan lain yang disampaikan oleh Demisioner ketua Umum HIKA saudra Andre 'Saya sudah 4 tahun ini di tanah jawa, tempat dimana perumusan Bhineka Tunggal Ika dibuat. Namun, saya hanya mampu menemukan bukti kebhinekaan itu di tanah kita yang tercinta Kabupaten Alor, Tanah yang menjunjung tinggi Nilai persaudaraan dan Ikatan kekeluargaan. Maka dari itu kita selaku calon-calon pewaris kabupaten Alor, jangan sampai membiarkan Kampung halaman kita diobrak abrik oleh tanga-tangan yang tidak bertanggung jawab yang ingin menghancurkan persaudaraan kita yang ingin memetakan kehidupan yang sudah saling merangkul dalam tarian lego-lego kita budaya luar biasa yang sudah diwariskan oleh para pendahulu-pendahulu kita.

Dalam kesederhanaan ini telah tertananm sebuah nilai kekeluargaan dan rasa saling menghormati antar ummat beragama. Semoga Pemuda pemudi Asal kabupaten Alor ini bisa menjadi Cerminan kita jika kita belum paham tentang nilai dari toleransi antar ummat beragama, dan semoga mereka bisa menjadi pemimpin-pemimpin yang dicintai oleh Rakyatnya kelak.
 
Repost (http://damanjab.blogspot.co.id/2016/12/suasana-natal-bersama-keluarga-besar.html)
HIKA 24/12/2016

Kenapa Harus Kuliah Di Malang


Malang merupakan kota di Indonesia yang sering dijadikan incaran calon mahasiswa. Mereka berasal dari banyak sekali daerah di Jawa, bahkan luar pulau seperti Kalimantan, Sumatra, hingga Maluku dan Nusa Tenggara. Para calon mahasiswa ini benar-benar tertarik dan ingin menghabiskan kuliahnya di Kota Bunga ini.


Penasaran kenapa justru Malang yang dipilih. Kenapa tidak Surabaya saja yang merupakan pusat dari Jawa Timur. Well, daripada kamu semakin penasaran, coba simak lima alasan kenapa Malang menjadi incaran banyak calon mahasiswa di Indonesia.

 

      
       1. Memiliki Kampus Unggulan Indonesia

















Bisa dibilang, kampus yang ada di Malang itu sangat komplit. Untuk yang ingin kuliah di kampus negeri, tiga kampus bisa dipilih. Pertama yang ingin mendalami pendidikan bisa mendaftar ke Universitas Negeri Malang atau UM. Selanjutnya yang ingin belajar teknik, bahasa, dan sains, UB atau Universitas Brawijaya bisa menjadi tujuan berikutnya. Kamu yang ingin mendalami masalah Agama Islam, UIN Maulana Malik Ibrahim siap menunggu dengan manis.

Masih kurang? Untuk universitas swasta, Malang memiliki beberapa nama yang bisa dijagokan. Misal Universitas Muhammadiyah Malang yang terkenal sampai seluruh Indonesia. Lalu ada beberapa kampus swasta lain yang siap dijadikan sasaran untuk melanjutkan ilmu. Memilih Malang untuk merajut cita-cita adalah keputusan yang tepat.


1.      2.  Biaya Hidup yang Murah Meriah
 


















Satu hal lagi yang menjadi daya tarik banyak calon mahasiswa untuk kuliah di Malang. 

Ya, biaya hidupnya sangat murah. Untuk tempat tinggal atau kos, kamu bisa mendapatkannya dengan harga yang cukup murah. Bila dibandingkan dengan Jakarta tentu beda sangat jauh. Di Malang, dengan hanya Rp250.000,00 saja kamu bisa mendapatkan tempat kos yang nyaman.

Selanjutnya adalah biaya untuk makan. Di Malang makanannya sangat murah. Bahkan dengan Rp10.000,00 saja kamu bisa makan dengan kenyang. Bahkan bisa dua kali makan jika pandai mencari warung yang murahnya luar biasa. Dalam sebulan, kalau hemat, biaya pengeluaranmu tidak akan habis lebih dari 1 juta. Bahkan bisa separuhnya.

3.      Malang Surga Kuliner Nikmat
 
 









 
Tidak bisa dipungkiri lagi jika Malang adalah surganya kuliner di Jawa Timur. Di tempat ini banyak sekali makanan yang enak. Kamu tidak hanya akan menemukan bakso khas Malang saja. tapi makanan lain dengan ide lebih kreatif pun banyak bermunculan dan siap untuk dicoba satu per satu.
Serunya lagi, harga makanan di malang relatif murah. Bahkan untuk makanan yang ada di pusat perbelanjaan, pujasera, dsb. terbilang masih bisa dijangkau kantong mahasiswa. Pokoknya hidup di Malang tidak akan membuat mahasiswa jadi kelaparan. Bahkan pulang ke rumah tubuh bisa jadi lebih tambun.
 
4.  Suasana yang Nyaman Untuk Ditempati
 
 
















Tahukah anda kenapa di masa lalu Belanda begitu menyukai Malang? Bahkan membangun kota ini menjadi sangat hebat di masa lalu? Jawabannya karena Malang nyaman sekali untuk ditinggali. Wilayah ini masih sejuk (meski sekarang sudah agak berkurang) jika dibandingkan dengan kota besar seperti Surabaya atau pun Yogyakarta.

Kota Malang tidak terlalu macet jika dibandingkan dengan daerah lain. Lalu lintas yang lancar tentu akan membuat calon mahasiswa bebas ke mana saja. Jika saja kuliahnya di Jakarta yang penuh macet, mau keluar saja males. Macet justru akan membuat emosi jadi naik. Niatnya mencari kesenangan, eh jadi pusing sendiri. 

5. Banyak Tempat Wisata dan Tempat Nongkrong













Malang memiliki banyak sekali tempat wisata. Hal ini penting karena saat nanti kuliah dan stres lantaran banyak tugas, mahasiswa bisa refreshing.  Menghabiskan seharian dengan bersenang-senang agar otak kembali  fresh. Jika ingin menghabiskan hari di pantai, cukup bergerak ke arah selatan. Atau jika ingin menikmati sejuknya udara pegunungan, bisa bergerak ke arah utara menuju Batu.

Jika kamu tidak ingin jauh-jauh pergi. Kamu bisa mengunjungi tempat nongkrong yang banyak hadir di Malang ketika malam. Di sepanjang jalan terutama di dekat kampus, lesehan, angkringan, kedai, atau kafe murah meriah hadir memanjakan setiap mahasiswa yang datang dengan kepalanya yang sudah berasap. 

Hidup di Malang artinya tak perlu khawatir kehabisan hiburan.

Itulah lima alasan kenapa banyak sekali calon mahasiswa mengincar kota Malang untuk tempat kuliah. Bagaimana dengan pendapat sobat? Yang pernah kuliah di sini pasti tahu bagaimana Kota Malang benar-benar susah untuk di tinggalkan.

(Hika Redaction 10 Januari 2017)