Kultur pendidikan dengan metode
intimidatif, militeristik, dan tidak dialogis pada dasarnya memiliki filosofi
bahwa manusia hanya bisa berkembang melalui pemaksaan dan tekanan.
Pedagogi ini tidak berangkat
dari keyakinan bahwa setiap pribadi adalah pembelajar yang positif dan unik.
Baginya, keterampilan berdialog, menerima perbedaan dan keunikan bukanlah
keutamaan fundamental.
Peserta didik tidak dilatih
untuk bisa mandiri berpendapat, memiliki integritas, dan bersikap otentik, namun
lebih condong pada kepatuhan dan konformitas atas nama semangat korsa.
Individu kemudian terbiasa
mencari aman dan konformis dalam kelompoknya. Celakanya, pola-pola konformitas,
cari aman dan ikut arus bisa menjadi iklim tumbuh dan terpeliharanya budaya
koruptif yang sistemik.
Sangat logis pula bila dewasa
ini ada kesulitan dalam masyarakat untuk berdialog dan menerima perbedaan.
Paradigma Pedagogi
Reflektif
Secara pedagogis, proses
pembelajaran pada esensinya adalah kegiatan yang cerdas dan partisipatif yang
mengembangkan otonomi berpikir, kreativitas, serta membentuk kompetensi dan
sikap bertanggung jawab.
Kegiatan ini harus merangsang
peserta didik agar secara reflektif dapat menemukan dan membangun dirinya yang
otentik, dalam proses belajar di masing-masing jenjang melalui dinamika
interaksi yang sehat dengan para pendidik, peserta didik lainnya, tenaga
kependidikan, keluarga, serta masyarakat sekitarnya.
Peserta didik harus dilatih
untuk berpikir, menganalisa, berdiskresi menimbang-nimbang pilihan, berani
berdialog dan berargumentasi secara dewasa dan ilmiah serta lalu mengambil
keputusan, bukan sekadar untuk patuh atau konformis.
Dalam konteks Paradigma Pedagogi
Reflektif, semua proses ini diolah agar peserta didik dapat menemukan lesson-learned
yang menggerakan tiga daya jiwa: ingatan, kesadaran, dan kehendak.
Model pendidikan ini hanya bisa
dibangun bila bangsa ini bisa melepaskan diri dari habitus kekerasan, dan
memulai habitus dialog yang menghargai perbedaan, agar kita semua menyadari
bahwa kekuatan bangsa ini adalah di dalam kemajemukannya, bukan di dalam
uniformitas yang dibangun dari paksaan dan tekanan, sebagaimana akhir-akhir ini
kita rasakan di dalam kehidupan sosial politik.






