Pasang Iklan Disini !!!

Tuesday, February 28, 2017

HIKA MALANG dan TEMBANG RINDUNYA

Aksi Iseng Tapi Menawan Anggota Hika Dengan Lagu  "Kota Kenari"

 Malam Kami di Kota yang dingin

jauh dari kehangatan keluarga

bersama hembusan Angin dingin yang menusuk

Kami lantunkan ba'it demi ba'it tembang

untuk tanah yang memberikan kami kehidupan

untuk tanah yang menjadi alasan kenapa kami disini

untuk tanah yang menyimpan jutaan kisah hidup kami

HIKA MALANG dan TEMBANG RINDUNYA

MY TRIP MY ADVENTURE ALOR

Pikiran kacau, Butuh liburan??? enakan kemana ya ????
nih... Tempat favoritnya Nadin Candra Winata sang gadis Cantik melepas kepenatannya dan menenangkan diri.
Kabupaten Alor Propinsi Nusa Tenggara Timur dengan Jutaan hal - hal menariknya. mari saksikian bersama.
siapa tau bisa jadi tempat rekomendasi buat pembaca


KUMPULAN VIDEO ANDMESH KAMALENG RISING STAR INDONESIA


Siapa yang tak kenal Andmesh Kamaleng, Talenta Muda asal Kabupaten Alor yang kerap kali membuai para Fans dan pemirsa Rising Star Indonesia dengan Suaranya yang merdu nan khas itu.
Berikut kami sajikan beberapa Aksi Andmesh dalam performanya di Rising Star Indonesia. Semoga anda sekalian terhibur.






Monday, February 27, 2017

DIBALIK SKENARIO GENERASI PENGEKOR



DIBALIK SKENARIO GENERASI PENGEKOR

OPINI

Oleh :Damanhury Jab
Damanhury Jab
Mahasiswa UMM Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris
Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
 
Judul yang kontradiktif dan menyinggung. Tapi ini adalah awal mula dan akar permasalahan dari penyebab kehancuran dan kebobrokan Negeri ini.

Indonesia merupakan Negara kepulauan yang memiliki bermacam ragama kekayaan sumber daya alam yang sangatlah melimpah. Mulai dari pasir hingga emas, atau dari air hingga minyak bumi bahkan dengan kayaan ini ada lagu  yang mengatakan ”Indonesia adalah tanah syurga”. Memang pantas istilah ini disandang oleh Negeri kita yang kaya nan menawan ini.

Namun siapa sangka, berawal dari kekayaan inilah ancaman demi ancaman berdatangan dan menggempur. Negara – negara asing banyak yang merasa begitu tergiur untuk masuk dan turut serta menikmati kekayan “tanah syurga” ini. Dulu, mereka masuk dan dengan keserakahannya ingin menghegemoni kekayaan alam Negeri ini dengan paksa. Kini, mereka masuk dengan bentuk jelmaan laksana malaikat tapi berhati iblis dengan tujuan yang sama pula. Ingin merebut serta menguras habis – habisan kekayaan Negeri ini secara perlahan – lahan.

Dijalan – jalan kita lihat, tuntutan demi tuntutan terus dilancarkan oleh mahasiswa dan masyarakat yang bersatu dalam Aliansi yang sering berganti nama. Namun, suara – suara ini secara perlahan lahan mulai coba dibungkam dengan berbagai macam siasat bejat. Masyarakat coba disibukkan untuk memikirkan perutnya dengan dinaikkannya harga kebutuha pokok setinggi mungkin. Sementara itu, Mahasiswa-pun disibukkan dengan perkembangan teknologi terbaru yang serba memanjakan dan asik berbicara tentang dunia sosialita. Maka, semakin menggila pulalah praktik – praktik eksploitasi ini hingga menjalar dan menggerogoti tanah syurga yang perawan ini.

Siapa dalang dari ini….???

Pemangku kebijakan adalah salahsatu pemain utama dan yang patut bertanggung jawab dalam kemorat - maritan ini. Dengan alasan Ekonomi Global pada Rezim Orde Baru mengawali praktek eksploitasinya hingga menyerahkan salahsatu kekayaan Negeri yang hari ini masih menjadi pembahasan terseksi yaitu Freeport di Papua. Kemudian hari ini, di era reformasi edan  yang serba alay ini, Pemangku kebijakan dengan serakahnya Membawa Negeri kita kedalam sebuah lembaran hitam yang menakutkan. MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) lembaran hitam yang dibuka dengan penuh kepura – puraan ditulis dengan tinta emas tapi berbau amis. “Jika negara kita melibatkan diri dengan Ekonomi Global dan MEA, Maka kemiskinan dan kemelaratan yang menjadi permasalahan terbesar di negara kita akan segera teratasi”. Dengan embel – embel ini pula mereka menjelma. Buktinya, Penggusuran rumah warga dan pengangguran karna minimnya ketersediaan lapangan kerja masih merajalela. Bahkan telah muncul pengangguran kelas baru yakni “Pengangguran Intelektual”.

Siapa sebenarnya pemangku kebijakan diatas sana???

Mereka dulunya adalah mantan – mantan Aktivist yang selalu berdiri di garda depan sebagai pahlawan bagi kaum tertindas. Mereka adalah orang – orang yang dulunya selalu mengumandangkan suara – suara minor dengan idealismenya yang terlihat seakan – akan kokoh laksana tembok Cina. Membangun kesan kepada yang melihatnya bahwa meski diterjang oleh Ombak dari Tujuh syamudrapun tidak akan pernah goyah Idealismenya.

Namun apa yang terjadi hari ini…???

Idealisme – idealisme itu laksana kertas lusuh yang diremas-remas kemudian dibuang kedalam keranjang sampah yang berisikan kotoran – kotoran yang berbau busuk. “Jika kau mau Uang, mari perlancar tujuan dan kepentingan kami”. Begitualah para pemilik modal merayu, laksana Iblis yang selalu berusaha memenjarakan manusia dalam kegelimangan dosa . Mereka menjadi pengekor, menjadi babu pemilik modal yang selalu bersedia serta manut sekalipun disuruh membunuh kaum mereka sendir. Disana, mereka berkonspirasi dengan kaum Imperialis agar bisa punya mobil mewah, Rumah Megah, dan Istri Cantik. Kemudian berdiri dengan tegak di depan publik, di depan adik – adik aktivist mahasiswanya yang sedang mendemo sembari berkata “Saya adalah orang sukses dan saya pernah menjadi seperti kalian” kata yang terucap tanpa beban dan dosa. Jika kau ingin sukses sepertiku, maka mari ikuti jalanku. Maka tidaklah sedikit dari para aktor mimbar bebas dan aktivist – aktivist-pun turut bergabung dalam lingkaran iblis yang menuhankan uang ini selepas mengenakan Toga. 

Lalu apa yang perlu kita perbuat…???

Jika hal ini dibiarkan berekalanjutan, maka mari menunggu kehancuran dan kebobrokan “Tanah Syurga” kita. Sudah saatnya kita membuka mata dan hati yang hingga saat ini semakin masif digerogoti oleh virus moderenisme. Dengan melihat realitas yang terjadi di tengah – tengah himpitan kehidupan masyarakat yang serba terpuruk ini, Mahasiswa sebagai generasi yang memiliki tanggung jawab sebagai Agen of Social controller harus kembali bangkit dengan segala kekuatan dan kemampuan intelektualnya. Jadikan fenomena yang memalukan ini sebagai bahan evaluasi kita terutama dalam kalangan mahasiswa dan terkhususnya pada kalangan aktivis mahasiswa. Semoga dengan tulisan ini bisa membantu mengurangi presentase praktik – praktik pendholiman terhadap Masyarakat dengan kepintaran dan kemampuan intelektual yang sudah diberikan tuhan kepada mereka.

Salamku Untukmu yang dulunya Idealis,
Salamku Untukmu yang hari ini Idealis,
Serta salamku untukmu yang akan menjadi kaum Idealis.

Saturday, February 25, 2017

TEMBIKAR (PERIUK TANAH) "AMPERA" KREATIVITAS YANG TERABAIKAN

MENGUNGKAP KEUNIKAN SEBUAH KERAJINAN TRADISIONAL WARGA DESA AMPERA KABUPATEN ALOR PROVINSI NTT YANG MULAI TERANCAM PUNAH KARNA KURANGNYA KEPEDULIAN DAN PERHATIAN DARI PEMERINTAH DAERAH

Tembikar Desa Lewolang


Gerabah muncul pertama kali pada waktu manusia mengalami masa food gathering (mengumpulkan makanan). Pada masa ini masyarakat hidup secara nomaden atau berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Dalam corak hidup seperti itu wadah Gerabah dapat digunakan secara efektif karena Gerabah merupakan benda yang ringan dan mudah dibawa-bawa. Selain itu Gerabah juga merupakan benda yang kuat, paling tidak lebih kuat daripada yang dibuat dari bahan lain, seperti kayu, bambu atau kulit binatang.
 
Dalam dunia arkeologi istilah Gerabah sudah sangat terkenal, Gerabah sebagai salah satu benda hasil kebudayaan manusia merupakan unsur yang paling penting dalam usaha untuk menggambarkan aspek-aspek kehidupan manusia. Istilah Gerabah ini biasanya untuk menunjukkan barang pecah belah yang terbuat dari tanah liat. Selain dengan sebutan di atas, ada pula sebagian orang menyebutnya dengan tembikar dan sebagian lagi keramik lokal, untuk membedakannya dari istilah keramik asing. Sampai kini Gerabah yang berhasil ditemukan terutama berbentuk wadah, seperti periuk,  pasu, celengan, pot bunga, dan asbak. Bentuk dan kegunaan Gerabah sangat beraneka ragam, mulai sekedar barang peralatan rumah tangga dengan ukuran yang sangat beragam. Menurut bentuk dan kegunaannya, Gerabah dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu fungsi Gerabah fungsional, Gerabah yang dapat memberikan manfaat secara langsung kepada penggunanya. 

Bentuk Gerabah fungsional antara lain : pasu,  periuk, asbak, tempat lilin, dan  Non fungsional : Gerabah dengan golongan ini lebih diutamakan sebagai barang-barang hiasan ruang, seperti pot bunga. Sehinga Gerabah mempunyai keunikan : Mempunyai Nilai Jual Yang Tinggi, dapat berfungsi sebagai hiasan atau pun bisa dipakai dalam kehidupan sehari-hari, sangat mudah untuk pecah, bahan dasarnya dari tanah (tanah liat), menggunakan alat dan teknik pembuatan tradisional, dan proses pembuatannya cukup panjang. cara perawatan : Bersihkan dengan kain basah kurang lebih 1 minggu, dan meletakkannya ditempat yang kering dan terhindar dari sinar matahari.
Berdasarkan ukurannya, Gerabah dapat digolongkan menjadi : Gerabah besar,  Gerabah sedang, dan Gerabah kecil. Gerabah dibuat dari jenis tanah liat yang dicampur.

SEJARAH AWAL MASUKNYA GERABAH

Secara historis, Gerabah masuk di Ampera berawal dari pulau Pantar ( Blagar ) melalui suatu proses 
perkawinan seorang putra yang bernama Kuramo dan seorang wanita yang bernama Buimo. Kuramo merupakan salah satu putera dari tiga bersaudara yang dilihat dari silsilah keturunannya berasal dari binatang ( Babi ), sehingga masyarakat  Ampera pada umumnya tidak menyukai Kuramo. Dengan demikian, orang tua Kuramo mencari jodoh di Pantar ( Blagar ) yang bernama Buimo. Sebagai bekal seorang puteri yang di persuntingkan, kedua orangtuanya memberikan sebuah alat Gerabah yakni Dontor (pemukul) dan Foi’a (anakan batu) dengan harapan bisa membantu kehidupan rumah tangganya. Tiba harinya kuramopun membawa Buimo kedaerah asalnya yakni desa Ampera. Disinalah istri Buimo mulai menerapkan sebuah karya lokal dari tanah liat yang disebut yakni Gerabah, warisan dari kedua orangtunya sangatlah membantu dan itu pada akhirnya menjadi budaya desa Ampera hingga dewasa ini.
Latar dari Gerabah ini disatu sisi merupakan suatu tradisi budaya sementara disisi lain sangat membantu perekonomian rumah tangga pada khusunya dan daerah terkait pada umumnya.

PROSES PEMBUATAN GERABAH

ALAT DAN BAHAN

Alat:
Linggis ( Hanor ) untuk menggali tanah
Tempurung ( Tu, a ) untuk mengambil tanah
Bakul ( Botang ) tempat mengisi tanah
Alu ( Alu ) untuk menumbuk tanah
Pengaya ( Keka ) menyaring tanah
Kayu Pemukul ( Dontor ) ada tiga macam yakni besar, sedang dan kecil membentuk Gerabah pada tahap pertama,kedua dan ketiga
Anakan Batu ( Foi, a ) menahan bagian dalam Gerabah dalam proses pembuatan
Sepotong sendok ( Huru ) menipiskan priuk tanah
Pisau ( Duri ) membentuk motif di luar periuk tanah Sepotong kain khas, pelicin periuk tanah
Karung ( Karong ) alas paha
Nyiru  ( Ba’i ) pembentukan awal dari pembuatan Gerabah
Bahan :
Bahan-bahan yang diperlukan dalam pembuatan Gerabah adalah sebagai berikut :
 tanah liat, pasir, air, daun pisang, kayu api, alang-alang.

Teknik Pembuatan 

Proses Pembuatan   

1.  Penjemuran Bongkahan tanah dipecah hingga menjadi butir-butir yang lebih kecil dan halus, dijemur hingga kering secara merata.  

2.  Penumbukan Bahan tanah liat yang sudah kering ditumbuk sampai halus dengan alat penumbuk (aluh dan lesung). Setelah ditumbuk tanah liat akan menjadi halus seperti tepung.  

3.  Penyaringan Hasil penumbukan tanah liat yang sudah halus disaring dengan menggunakan saringan. Jika menghendaki yang lebih halus lagi dapat menggunakan saringan dengan ukuran kecil. Butiran kasar yang tidak tersaring dapat ditumbuk dan disaring kembali.    

5. Pencampuran Tanah liat yang sudah disaring dicampur dalam suatu wadah dengan cara diaduk. Tambahkan air secukupnya dari jumlah tanah liat kering. Penambahan air dilakukan sedikit demi sedikit dan merata sambil diaduk dan diremas-remas, sehingga kandungan air dalam tanah liat cukup dan siap untuk diuli.  

6. Pengulian Pengulian tanah liat dilakukan agar tanah liat menjadi plastis dan homogen, kemudian dibentuk menjadi bulatan-bulatan bola tanah liat.   

7. Penyimpanan Bulatan-bulatan bola tanah liat disimpan dalam kantong plastik dan ditutup rapat selama kurang lebih 7 hari. Dalam proses ini terjadi proses fermentasi dari unsur-unsur organik yang dikandungnya, sehingga tanah liat menjadi lebih plastis. 

Dari hasil tersebut di bentuk menjadi periuk tanah dengan menggunakan alat seperti : pemukul, nyiru, anakan batu, dan kain. Untuk mendapatkan hasil periuk tanah yang bagus, periuk tanah di simpan di tempat yang sejuk selama 30 menit. Setelah itu di berikan motif periuk sesuai dengan keinginan pekerja dan hasilnya di jemur selama 7 hari. Dari periuk yang sudah di jemur ini di susun dan di bakar dengan mengunakan bahan-bahan yang sudah di sediakan seperti : kayu bakar, alang-alang dan daun pisang selama 3-4 jam sehingga periuk tersebut kelihatan berwarna merah.

Sungguh sebuah kerajinan yang memiliki nilai jual yang tinggi dan bisa menjadi salahsatu situs wisata tradisional yang mampu mendongkrak perekonomian masyarakat tempat ini. Tapi kerajinan ini semakin lama semakin terkubur oleh perputaran waktu dan juga disebapkan oleh kurangnya perhatian pemerintah dalam memberdayakan kerajinan-kerajinan yang masih bersifat tradisional di tempat ini.


THE EFIDENCE OF TRIUMPH ISLAM IN ALOR

The Bark Of Holy Qur'an One Evidence Of T
he Triumph History Of Islam In Alor Island

The Geographically Alor Island along with several other small islands is part of the district of Alor, East Nusa Tenggara (NTT).  The Name was very short "Alor", but this island storing of natural charm are very long and riveting.  Starting from nature, travel, culture and richness of language. Alor did Exotic and not be discharged to enjoy its beauty. One of the most exotic and popular of Alor district is Pantar Strait, which lies between the islands and the island of Alor and Pantar. The beauty and uniqueness of the underwater world is fabulous Pantar Strait. Even when compared with the Marine Park Komodo which is also located in East Nusa Tenggara, Berau in East Kalimantan, Bunaken in North Sulawesi and Raja Ampat in Papua, Selat Pantar still the best, though so far for diving, marine park Komodo, Bunaken, Berau and Raja Ampat more popular, but in the eyes of the world-class divers Pantar Strait marine park is superior because of its beauty is amazing. It is said that after the most beautiful Caribbean Islands marine park.
To be excellent and the teaser for the world class divers from the United States, Australia, Austria, Britain, France, Belgium, Netherlands, Germany, Canada, New Zealand, and several countries in Asia.
Travelling to Alor regency, Nusa Tenggara Timur (NTT), it feels incomplete if you have not been to the old sites in Alor. The old sites, for example, the Qur'an made of bark, relics of centuries old mosque in the village Lerabaing, to the various artifacts of Islam in Alor regency.
The most impressive is the Holly Qur'an which is made from the bark and the old mosque in the village Lerabaing. Perhaps according to the local old people's stories, the Qur'an is made from the bark by hand it is a relic of the sultanate of Ternate when they brought Islam to Alor district around 1519 AD.
Currently the Holy Qur'an is saved by Saleh Panggo Gogo is a 13th generation descendant of the Sultanate of Ternate iang Gogo. So even an old mosque that was the center of preaching the carrier greatness when they brought in the Islamic mission in Alor District. Up to now the old mosque was used as a place of worship.
The Old of mosque still standing was built with the typical architecture of Ternate in 1633 AD. Amazement, the mosque was built it was no use of modern equipment. Between one pole and another pole buildings connected by not using nails or wood pen. Between one pole and another pole only interlocking. Nevertheless, the old mosque which was built in 1633 AD was never felled by the wind and the storm today.
In sociology, the influence of the arrival of Islam from Ternate cause the coastal population in the Muslim-majority Alor district. It is said that the carrier of the symbols of Islam came into Alor trade lane, so the distribution of Muslim population is more in coastal areas. Unlike the case with the majority of people in the interior of Christians. The spread of Christianity in Alor through Christian missionaries from the Netherlands in 1908. The Dutch missionaries came after the entry of Islamic influence of Ternate in the beach area. By him that the Christian population more in rural areas, although the residents of coastal and inland still bound by blood ties and custom.
Collected from several sources, based on age, relics of Holy Qur'an in Alor Holy Qur'an is the oldest in Asia. At the Festival Legu Gam in Ternate in 2011, is the oldest Holy Qur'an specially imported by the Sultan of Ternate of Alor.
Based on the source, Holy Qur'an was brought to Alor Besar in 1519 AD by iang Gogo who wander along four siblings with a mission to spread Islam to the Alor. At that time, the holy book were taken in the Sultanate Babullah V by five brothers from Ternate using sailboat that according to history named Tuma Ninah meaning `Stop / Stop Briefly '. The real proof of the entry of Islam from Ternate to Alor this is one island in Alor named Ternate island. Similarly, there was a settlement in the village of Illu-Baranusa named village "Maloku".
Alor, not only saving the beautiful views of the underwater world number two in the world after the Caribbean sea, but also save artifacts and traces the history of Islamic civilization was awesome. Feels incomplete visit to NTT, if not yet visited sites in the old city district is nicknamed The walnut.
Reposting From: http://www.damanjab.ga/2016/08/bukti-peninggalan-sejarah-kejayaan.html

KULIAH


Pendidikan yang mencerahkan


Mengerikan melihat apa yang terjadi kalau ambisi dan kekuasaan tumbuh berkembang dalam benak Idiot
-          Dhung Thung Hong


Pernyataan para mahasiswa itu bukanlah suatu pernyataan Politik melainkan pernyataan etik
-          Jap Ki Hien
   
Jujur saya termenung melihat itu. Deretan mahasiswa duduk berjejer rapi tanpa bantahan.potongan mereka hampir mirip – mirip. Tertempel difoto diatas foto guru besar: padat gelar dengan muka lukisan yang dibuat bewibawa. Menjatuhkan pandangan pada kelas seperti sebuah titah: diamlah maka kamu akan mendapat pengetahuan. Seakan pengetahuan itu bisa menjelma dalam ruangan yang sunyi. Tak berisik dan tak bergerak. Lalu mahasiswa diperkenalkan dengan disiplin, sebuah aturan ditegaskan: masuklah dengan tertib, capailah nilai setinggi mungkin dan bersikaplah yang sopan. Maka, kuliah seperti pekerjaan pegawai dengan jam rutin dan hasil yang bisa di prediksi. Lazim situasi ini dengan sebutan: Latihan menjadi kaum professional.

Tapi, apakah memang begitu suasana kuliah?

Kuingin ajak pembaca kembali ke dasawarsa 1940. Masa dimana sebuah bangsa menjemput mimpinya. Masa dimana golongan mahasiswa mempunyai status Istimewa. Elit baru yang tampil dengan cita – cita kemanusiaan mereka.  Biarlah ben Anderson yang menceritakan tentang Usaha Asrama Kala itu.

Asrama itu merupakan tempat pelarian dari keluarga, menydiakan tempat tidur bagi mahasiswa yang terdampat di  Ibu kota atau sedang berkunjung kesana dari daerah, merupakan forum diskusi – diskusi intens yang agak tertutup dan menjadi pusat solidaritas ….. macam opini dari kalangan pelajar atau mahasiswa berkisar dari marxisme yang lebih dogmatis, yang dianut oleh orang – orang yang dikemudian hari menjadi anggota partai komunis Indonesia yang dibentuk kembali, sosialisme demokratis, dan aliran sosialisme yang kadang – kadan berwarna otoriter.
Suasna pastilah gaduh dan penuh kejutan. Debat dan olah gagasan setiap orang menggairahkan. Maklum, mungkin itu karena keadaan yang butuh gagasan dan sedang menghadapi berbagai macam ancaman. Jepang berdiri dengan imperium fasis yang siap menangkap siapapun yang dicurigai. 

Beberapa aktivis mahasisiwa ditangkap dan beberapa dijatuhi hukuman mati. Lalu, Belanda dengan gemas ingin mencaplok. Pada situasi suram itu, mahasiswa berdiri tidak dengan status fakultasnya ataupun sikap primordialnya.tetapi kesadaran umum sebagi golongan terdidik. Apa sesungguhnya komitmen mereka? Aforisme yang selalu digunakan Sjahrir bisa menjadi untuk melihat keresahan umum mereka:’satu – satunya shabat revolusi adalah waktu’; ‘revolusi juga berarti kesabran’; ‘revolusi adalah persipan’.

Sejarah itu bisa menjadi sebuah kerangka moral dan imaginatif. Bahawa seorang anak muda tumbuh dengan cita – cita besarnya: memepertahankan republik dengn kesadaran sebagai seorang terpelajar.
Kebangkitan Pemuda adalah awal dari kemajuan suatu Kaum. 

Salam Perjuangan !!!! 
  Alor Negeriku....
  Hika Jati diriku...



Wednesday, February 15, 2017

AKSI PENGGALANGAN DANA UNTUK MAHASISWA ALOR (HIKA MALANG) HARI KEDUA MENGUNDANG PILU DAN SIMPATIK WARGA KOTA MALANG



Jelang Aksi Solidaritas Jilid II HIKA Malang 15/02/2017

MALANG,15/02/17 - Aksi penggalangan dana HIKA (HIMPUNAN KEKELUARGAAN ALOR) Malang untuk salahsatu anggota Organisasi Mahasiswa Daerah Alor Malang yang mengalami kecelakaan Speda Motor di Kecamatan Gondanglegi Kabupaten Malang satu bulan yang lalu hingga nyaris meninggal dunia kini memasuki hari kedua.

Aksi yang disebut dengan nama Aksi Solidaritas Mahasiswa Alor Malang Jilid II ini dengan tujuan agar bisa membantu salah satu anggotanya yang saat ini sedang dibebani dengan biaya perawatan rumah sakit pasca melakukan operasi besar sebanyak 3 (tiga) kali, ditambah dengan biaya obat obatan yang setelah dikalkulasikan mencapai biaya sebanyak Rp. 230.000.000_’’ (Dua Ratus Tiga Puluh Juta Rupiah).

Dengan bermodalkan alat musik seadanya dan Dus kartun bekas Indomie mereka nekat turun jalan sambil “mengamen” mengumpulkan receh demi membantu agar dapat mengurangi beban salahsatu saudara mereka yang sementara ini sedang tertimpa musibah.  Sebuah tontonan yang cukup mengharukan bagi siapapun yang melihat.

“saya pernah ditanyakan begini; adik - adik ini lagi aksi solidaritas dalam rangka apa ? kemudian saya bilang kalau kami lagi aksi solidaritas bantu salahsatu sahabat kami yang baru selesai menjalani Operasi Selama tiga kali dan dibebani biaya perawatan sebanyak “Dua Ratus Tiga Puluh Juta Rupiah”. Kemudian oranya Tanya lagi; loh,,, kenapa tidak minta bantuan ke pemerintah daerah ? adik – adik ini kan Mahasiswa. Saya Cuma tersenyum dan jawab, tidak apa – apa pak, kami takut permohonan bantuan kami ditolak soalnya selama ini kami tidak pernah diperhatikan sedikitpun jadi kami coba usaha sendiri”. Jelas salahsatu  Mahasiswa Alor Malang yang ikut dalam Aksi Solidaritas ini.

Aksi ini disambut baik oleh warga Kota Malang dan turut berpartisipasi dalam gerakan sosial dan kemanusiaan. Mohon Do’a serta dukungan pembaca sekalian agar aksi ini berjalan lancar dan semoga generasi  - generasi ini mampu menjadi orang – orang yang tidak apatis dengan kondisi sosial serta kondisi orang – orang yang dipimpinnya jika suatu hari kelak diantara mereka ada yang menjadi pemimin. (HIKAPRESS)