MENGUNGKAP KEUNIKAN SEBUAH KERAJINAN TRADISIONAL WARGA DESA AMPERA KABUPATEN ALOR PROVINSI NTT YANG MULAI TERANCAM PUNAH KARNA KURANGNYA KEPEDULIAN DAN PERHATIAN DARI PEMERINTAH DAERAH
 |
| Tembikar Desa Lewolang |
Gerabah muncul pertama kali pada waktu manusia mengalami
masa food gathering (mengumpulkan makanan). Pada masa ini masyarakat
hidup secara nomaden atau berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat
lainnya. Dalam corak hidup seperti itu wadah Gerabah dapat digunakan
secara efektif karena Gerabah merupakan benda yang ringan dan mudah
dibawa-bawa. Selain itu Gerabah juga merupakan benda yang kuat, paling
tidak lebih kuat daripada yang dibuat dari bahan lain, seperti kayu,
bambu atau kulit binatang.
Dalam dunia arkeologi istilah Gerabah sudah sangat terkenal, Gerabah
sebagai salah satu benda hasil kebudayaan manusia merupakan unsur yang
paling penting dalam usaha untuk menggambarkan aspek-aspek kehidupan
manusia. Istilah Gerabah ini biasanya untuk menunjukkan barang pecah
belah yang terbuat dari tanah liat. Selain dengan sebutan di atas, ada
pula sebagian orang menyebutnya dengan tembikar dan sebagian lagi
keramik lokal, untuk membedakannya dari istilah keramik asing. Sampai
kini Gerabah yang berhasil ditemukan terutama berbentuk wadah, seperti
periuk, pasu, celengan, pot bunga, dan asbak. Bentuk dan kegunaan
Gerabah sangat beraneka ragam, mulai sekedar barang peralatan rumah
tangga dengan ukuran yang sangat beragam. Menurut bentuk dan
kegunaannya, Gerabah dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu fungsi
Gerabah fungsional, Gerabah yang dapat memberikan manfaat secara
langsung kepada penggunanya.
Bentuk Gerabah fungsional antara lain : pasu, periuk,
asbak, tempat lilin, dan Non fungsional : Gerabah dengan golongan ini
lebih diutamakan sebagai barang-barang hiasan ruang, seperti pot bunga.
Sehinga Gerabah mempunyai keunikan : Mempunyai Nilai Jual Yang Tinggi,
dapat berfungsi sebagai hiasan atau pun bisa dipakai dalam kehidupan
sehari-hari, sangat mudah untuk pecah, bahan dasarnya dari tanah (tanah
liat), menggunakan alat dan teknik pembuatan tradisional, dan proses
pembuatannya cukup panjang. cara perawatan : Bersihkan dengan kain basah
kurang lebih 1 minggu, dan meletakkannya ditempat yang kering dan
terhindar dari sinar matahari.
Berdasarkan ukurannya, Gerabah dapat digolongkan menjadi : Gerabah
besar, Gerabah sedang, dan Gerabah kecil. Gerabah dibuat dari jenis
tanah liat yang dicampur.
SEJARAH AWAL MASUKNYA GERABAH
Secara historis, Gerabah masuk di Ampera berawal dari pulau
Pantar ( Blagar ) melalui suatu proses
perkawinan seorang putra yang
bernama Kuramo dan seorang wanita yang bernama Buimo. Kuramo merupakan
salah satu putera dari tiga bersaudara yang dilihat dari silsilah
keturunannya berasal dari binatang ( Babi ), sehingga masyarakat Ampera
pada umumnya tidak menyukai Kuramo. Dengan demikian, orang tua Kuramo
mencari jodoh di Pantar ( Blagar ) yang bernama Buimo. Sebagai bekal
seorang puteri yang di persuntingkan, kedua orangtuanya memberikan
sebuah alat Gerabah yakni Dontor (pemukul) dan Foi’a (anakan batu)
dengan harapan bisa membantu kehidupan rumah tangganya. Tiba harinya
kuramopun membawa Buimo kedaerah asalnya yakni desa Ampera. Disinalah
istri Buimo mulai menerapkan sebuah karya lokal dari tanah liat yang
disebut yakni Gerabah, warisan dari kedua orangtunya sangatlah membantu
dan itu pada akhirnya menjadi budaya desa Ampera hingga dewasa ini.
Latar dari Gerabah ini disatu sisi merupakan suatu tradisi budaya
sementara disisi lain sangat membantu perekonomian rumah tangga pada
khusunya dan daerah terkait pada umumnya.
PROSES PEMBUATAN GERABAH
ALAT DAN BAHAN
Alat:
Linggis ( Hanor ) untuk menggali tanah
Tempurung ( Tu, a ) untuk mengambil tanah
Bakul ( Botang ) tempat mengisi tanah
Alu ( Alu ) untuk menumbuk tanah
Pengaya ( Keka ) menyaring tanah
Kayu Pemukul ( Dontor ) ada tiga macam yakni besar, sedang dan kecil membentuk Gerabah pada tahap pertama,kedua dan ketiga
Anakan Batu ( Foi, a ) menahan bagian dalam Gerabah dalam proses pembuatan
Sepotong sendok ( Huru ) menipiskan priuk tanah
Pisau ( Duri ) membentuk motif di luar periuk tanah Sepotong kain khas, pelicin periuk tanah
Karung ( Karong ) alas paha
Nyiru ( Ba’i ) pembentukan awal dari pembuatan Gerabah
Bahan :
Bahan-bahan yang diperlukan dalam pembuatan Gerabah
adalah sebagai berikut :
tanah liat, pasir, air, daun pisang, kayu api,
alang-alang.
Teknik Pembuatan
Proses Pembuatan
1. Penjemuran Bongkahan tanah dipecah hingga menjadi
butir-butir yang lebih kecil dan halus, dijemur hingga kering secara
merata.
2. Penumbukan Bahan tanah liat yang sudah kering ditumbuk
sampai halus dengan alat penumbuk (aluh dan lesung). Setelah ditumbuk
tanah liat akan menjadi halus seperti tepung.
3. Penyaringan Hasil penumbukan tanah liat yang sudah
halus disaring dengan menggunakan saringan. Jika menghendaki yang lebih
halus lagi dapat menggunakan saringan dengan ukuran kecil. Butiran kasar
yang tidak tersaring dapat ditumbuk dan disaring kembali.
5. Pencampuran Tanah liat yang sudah disaring dicampur
dalam suatu wadah dengan cara diaduk. Tambahkan air secukupnya dari
jumlah tanah liat kering. Penambahan air dilakukan sedikit demi sedikit
dan merata sambil diaduk dan diremas-remas, sehingga kandungan air dalam
tanah liat cukup dan siap untuk diuli.
6. Pengulian Pengulian tanah liat dilakukan agar tanah liat
menjadi plastis dan homogen, kemudian dibentuk menjadi bulatan-bulatan
bola tanah liat.
7. Penyimpanan Bulatan-bulatan bola tanah liat disimpan
dalam kantong plastik dan ditutup rapat selama kurang lebih 7 hari.
Dalam proses ini terjadi proses fermentasi dari unsur-unsur organik yang
dikandungnya, sehingga tanah liat menjadi lebih plastis.
Dari hasil
tersebut di bentuk menjadi periuk tanah dengan menggunakan alat seperti :
pemukul, nyiru, anakan batu, dan kain. Untuk mendapatkan hasil periuk
tanah yang bagus, periuk tanah di simpan di tempat yang sejuk selama 30
menit. Setelah itu di berikan motif periuk sesuai dengan keinginan
pekerja dan hasilnya di jemur selama 7 hari. Dari periuk yang sudah di
jemur ini di susun dan di bakar dengan mengunakan bahan-bahan yang sudah
di sediakan seperti : kayu bakar, alang-alang dan daun pisang selama
3-4 jam sehingga periuk tersebut kelihatan berwarna merah.
Sungguh sebuah kerajinan yang memiliki nilai jual yang
tinggi dan bisa menjadi salahsatu situs wisata tradisional yang mampu
mendongkrak perekonomian masyarakat tempat ini. Tapi kerajinan ini
semakin lama semakin terkubur oleh perputaran waktu dan juga disebapkan
oleh kurangnya perhatian pemerintah dalam memberdayakan
kerajinan-kerajinan yang masih bersifat tradisional di tempat ini.