Oleh: Damanhury Jab
Jalanilah hidupmu sepertihalnya menghabiskan secangkir kopi nikmati
pelan-pelan sampai kau merasakan kenikmatan dari menghabiskanya, jalanilah
hidupmu secara perlahan hingga kau tau kenapa kau harus menjalaninya
Malam terasa dingin dan menusuk hingga ke sum-sum tulang. Seperti biasanya, aku bergegas menuju ke markasku dan kawan-kawan ketika udaranya seperti ini. Yah, ke warung kopi tempat bisanya aku mengisi malam- malam bersama beberapa teman aktivist mahasiswa. Kuraih laptop yang sejak tadi tergeletak di meja dengan setelan musik dangdut, aliran musik kesukaanku. Kota malang memang dinginnya memaksa untuk segera menghangatkan dada dengan seruputan kopi khasnya.
Disana,
diwarung kopi, ku jumpai orang-orang dengan berbagai macam bentuk rupa. Dengan
wajah manis hingga pahit, Asin hingga tawar. Disana, mereka berkumpul sembari
menjalin silaturrahmi sekaligus berdiskusi tentang berbagai macam persoalan.
Ada diantara mereka yang berdiskusi tentang wacana kebangsaan, ada juga
diantara mereka yang berdiskusi tentang organisasi mahasiswa dan sebagian dari
mereka ada yang sengaja nyari wi-fi gratisan. Eh… hampir lupa, ada lagi satu
kelompok yang paling berisik di warung kopi yakni mereka pengunjung warung kopi
yang mengisi momen ngopinya dengan Pokeran (Main Kartu).
Jangan
heran jika warung kopi di kota ini banyak pengunjungnya. Kota Malang merupakan
kota pendidikan, kota yang banyak melahirkan pemimpin-pemimpin besar Negeri
ini. Kota yang kental dengan atmosfer pendidikannya. Kota malang juga merupakan
sebuah laboratorium untuk calon – calon pemimpin yang unggul di masa depan.
Kenapa aku berkata demikian ? karna, diskusi – diskusi yang sering aku
dengarkan di warung kopi sebagian besarnya diskusi berat sehingga aku mengambil
kesimpulan bahwa akan lahir sosok – sosok pemimpin terbaik negeri ini
(Negarawan maupun akademisi) dari Sini Dari warung kopi yang penuh dengan
kepulan asap rokok filter yang bercampur dengan kebisingan speaker musiknya
memberikan pertanda bahwa Otak mahasiswa warung kopi tetap bisa bekerja
sekalipun dalam suasana hiruk pikuk kebisingan tempat itu. Ku lihat, Betapa
bangganya masyarakat Indonesia (Mayoritas pemuda) menikmati kekayaan alam
mereka, Jerih payah petani tembakau yang hari ini terancam kesulitan lahan
pertanian dan penghasilan pemasaran tembakau
yang terkadang terombang ambing karna ulahnya para tengkulak dan kaum
pemilik Modal.
Disana
pula aku melihat adalanya sebuah proses timbal balik yang signifikan antara
pedagang kopi dan penikmat kopi. Dengan adanya mahasiswa dapat membantu
pemasukan buat pengusaha warung kopi jika dihitung dengan skala kecil, dan juga
mampu menunjang pemasukan Pemerintak Kota jidka dihitung dengan skala besarnya
“Karna Pajak warung kopi kios – kios klontongan hari ini cukup membludag dan
sering membuat menangis para pengusaha kecil dan menengah”. Disisi lain, dengan
adanya warung kopi, bisa membantu Mahasiswa untuk berkumpul dan berbincang
tentang hal – hal yang ingin mereka bahas. Tempat ini adalah salahsatu tempat
Favoritku dan teman-teman pergerakan berkumpul untuk membahas hal-hal penting
yang berkaitan dengan Organisasi kami. (Maklumlah, saya juga Organisatoris)
sehingga Mas – mas penjual kopinya-pun sudah menjadi kenalan baik.
Suara Adzan subuh adalah alarm buat kami agar
segera meninggalkan hiruk pikuknya markas kami, dan bergegas menuju ke masjid- masjid terdekat untuk
memenuhi panggilan sebagai seorang hamba yang sadar bahwa jika ingin menjadi
seorang pemimpin yang baik, maka harus mendekatkan diri pada Tuhannya agar
terhindar dari konspirasi – konspirasi yang bermuara pada kemelaratan
kaum/ummat. Salam seruput, Salam
Perjuangan.
“Jangan
lupa ngopi hari ini”
No comments:
Post a Comment