Pasang Iklan Disini !!!

Monday, January 9, 2017

CERITA WARUNG KOPI




                           Oleh: Damanhury Jab  
 

Jalanilah hidupmu sepertihalnya menghabiskan secangkir kopi nikmati pelan-pelan sampai kau merasakan kenikmatan dari menghabiskanya, jalanilah hidupmu secara perlahan hingga kau tau kenapa kau harus menjalaninya

Malam terasa dingin dan menusuk hingga ke sum-sum tulang. Seperti biasanya, aku bergegas menuju ke markasku dan kawan-kawan ketika udaranya seperti ini. Yah,  ke warung kopi tempat bisanya aku mengisi malam- malam bersama beberapa teman aktivist mahasiswa. Kuraih laptop yang sejak tadi tergeletak di meja dengan setelan musik dangdut, aliran musik kesukaanku.  Kota malang memang dinginnya memaksa untuk segera menghangatkan dada dengan seruputan kopi khasnya.

Disana, diwarung kopi, ku jumpai orang-orang dengan berbagai macam bentuk rupa. Dengan wajah manis hingga pahit, Asin hingga tawar. Disana, mereka berkumpul sembari menjalin silaturrahmi sekaligus berdiskusi tentang berbagai macam persoalan. Ada diantara mereka yang berdiskusi tentang wacana kebangsaan, ada juga diantara mereka yang berdiskusi tentang organisasi mahasiswa dan sebagian dari mereka ada yang sengaja nyari wi-fi gratisan. Eh… hampir lupa, ada lagi satu kelompok yang paling berisik di warung kopi yakni mereka pengunjung warung kopi yang mengisi momen ngopinya dengan Pokeran (Main Kartu).

Jangan heran jika warung kopi di kota ini banyak pengunjungnya. Kota Malang merupakan kota pendidikan, kota yang banyak melahirkan pemimpin-pemimpin besar Negeri ini. Kota yang kental dengan atmosfer pendidikannya. Kota malang juga merupakan sebuah laboratorium untuk calon – calon pemimpin yang unggul di masa depan. Kenapa aku berkata demikian ? karna, diskusi – diskusi yang sering aku dengarkan di warung kopi sebagian besarnya diskusi berat sehingga aku mengambil kesimpulan bahwa akan lahir sosok – sosok pemimpin terbaik negeri ini (Negarawan maupun akademisi) dari Sini Dari warung kopi yang penuh dengan kepulan asap rokok filter yang bercampur dengan kebisingan speaker musiknya memberikan pertanda bahwa Otak mahasiswa warung kopi tetap bisa bekerja sekalipun dalam suasana hiruk pikuk kebisingan tempat itu. Ku lihat, Betapa bangganya masyarakat Indonesia (Mayoritas pemuda) menikmati kekayaan alam mereka, Jerih payah petani tembakau yang hari ini terancam kesulitan lahan pertanian dan penghasilan pemasaran tembakau  yang terkadang terombang ambing karna ulahnya para tengkulak dan kaum pemilik Modal.

Disana pula aku melihat adalanya sebuah proses timbal balik yang signifikan antara pedagang kopi dan penikmat kopi. Dengan adanya mahasiswa dapat membantu pemasukan buat pengusaha warung kopi jika dihitung dengan skala kecil, dan juga mampu menunjang pemasukan Pemerintak Kota jidka dihitung dengan skala besarnya “Karna Pajak warung kopi kios – kios klontongan hari ini cukup membludag dan sering membuat menangis para pengusaha kecil dan menengah”. Disisi lain, dengan adanya warung kopi, bisa membantu Mahasiswa untuk berkumpul dan berbincang tentang hal – hal yang ingin mereka bahas. Tempat ini adalah salahsatu tempat Favoritku dan teman-teman pergerakan berkumpul untuk membahas hal-hal penting yang berkaitan dengan Organisasi kami. (Maklumlah, saya juga Organisatoris) sehingga Mas – mas penjual kopinya-pun sudah menjadi kenalan baik.
            
 Suara Adzan subuh adalah alarm buat kami agar segera meninggalkan hiruk pikuknya markas kami, dan bergegas  menuju ke masjid- masjid terdekat untuk memenuhi panggilan sebagai seorang hamba yang sadar bahwa jika ingin menjadi seorang pemimpin yang baik, maka harus mendekatkan diri pada Tuhannya agar terhindar dari konspirasi – konspirasi yang bermuara pada kemelaratan kaum/ummat.  Salam seruput, Salam Perjuangan.
“Jangan lupa ngopi hari ini”

No comments:

Post a Comment